IPB Gelar FGD Water Sensitive City

Institut Pertanian Bogor Terus melakukan kajian dengan melalui Focus Group Discussion(FGD) benchmarking, untuk mengetahui pada level berapakah kota Bogor dan Kabupaten Bogor (Cibinong dan Sentul City) di standar “Water Sensitive City”, kemarin.

Prof Hadi Susilo Arifin selaku Peneliti dari IPB menjelaskan kajian dalam FGD ini melibatkan para akademisi dari tiga universitas yaitu IPD, UI dan Monash University. Water Sensitive Cities-Kota Sensitif Air/ Kota Ramah Air adalah suatu konsep kota dimasa yang akan datang dimana tidak hanya memenuhi kebutuhan air perkotaan, tetapi bagaimana sumber daya air sekaligus memberi manfaat keletingan dan memiliki daya tahan terhadap air.

Ilustrasi dari Kota Ramah Air ini adalah dimana kota yang tidak banjir jika musim hujan dan kota yang tidak kekeringan air jika di musim kemarau. Melalui FGD yang dilakukan di kampus IPB dan dua lokasi penerapan water sensitive cities ini nantinya dapat menjadi ide dalam mencari solusi ke depan atas permasalahan air di suatu tempat.

Mengapa penelitian ini dilakukan di kota Bogor, kota Bogor umumnya di sebut kota hujan dikarenakan sering terjadi hujan dengan kapasita besar dan lama, sehingga sering menimbulkan kebanjiran sampai keluar daerah Bogor itu sendiri. Ia menyebutkan, sebetulnya oenelitian sama antara IPB, UI dan Monash University ini sudah dilakukan terangkum pada topik penelitian “Air Perkota-Kotaan Ramah Air” yang dimulai dari 2016-2019. Cluster Penelitian Air ini merupakan salah satu cluster dari lima cluster riset dalam kerja sama di the Australia Indonesia Center (AIC).

Sementara itu, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto sebelumnya sempat memaparkan dalam mewujudkan program kota bogor sebagai Kota Ramah Air, Pihaknya telah menyusun kerangka kebijakan dan skema pelaksanaan kegiatan agar selaras dengan berbagai perencanaan kota yang sudah disusun sebelumnya.

“Bagi kami di kota bogor, kami ingin seluruh program dapat berjalan dengan lancar dan tentunya didukung dengan perencanaan yang mamadai,”Katanya dalam Pertemuan telecnference-Urban Water Cluster Adivisory Board The Australia Indonesia Cernter, belum lama ini.

Pertemuan ini kata Bima, Merupakantindak lanjut dari pertemuan sebelumnya di Bogor oada tahn lalu. Selama tiga tahun, mulai tahun 2016 hingga tahun 2018 kedepan kota Bogor dan Kabupaten Bogor akan menerima bantuan berupa riset dati The Australia-Indonesia Cerntre untuk Program Bogor KOta Ramah Air yang melibatkan para akademisi dari Minash Univercity Australia, IPB dan UI.

You May Also Like