Prasasti Batu Tulis Bogor

Prasasti Batu Tulis Bogor

Prasasti Batu Tulis Bogor

Prasasti Batu Tulis merupakan sebuah batu berbentuk segi tiga pipih menyerupai gunungan yang dibuat pada masa pemerintahan Raja Surawisesa (1521-1535). Putra Prabu Siliwangi itu mempersembahkan prasasti berukuran tinggi 1,82 m, lebar atas 27 cm, lebar bawah 1,52 m, dan tebal 15 cm yang dijadikan sebuah tempat untuk memperingati ayahandanya yang dibuat setelah 12 tahun Prabu Siliwangi wafat pada 1521.

Prasasti Batu Tulis terletak di Jalan Batutulis, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Kompleks Prasasti Batu Tulis memiliki luas 17 x 15 meter.

Kekuasaan Prabu Siliwangi (1482-1521) memang melegenda mengingat Pajajaran termasuk kota yang strategis. Kebudayaan yang maju antara lain, keberadaan pelabuhan internasional Kalapa dari muara Sungai Ciliwung, juga Kelawung, Cipakancilan dan Cisadane.

Berdasarkan silsilah, Prabu Siliwangi ialah putra dari Rahyang Dewa Niskala Raja Galuh, cucu dari Niskala Wastukencana. Pada masa awal dirinya dinobatkan sebagai raja, ia pindahkan pusat kerajaan ke Pakuan Pajajaran, yang diper kirakan terletak di lokasi Asrama Pusdikzi Lawang Gintung, Bogor, sekarang.

Sejarah menyebutkan pula catatan tertulis pertama tentang temuan prasasti itu. Kabar itu terdokumentasi dalam laporan eks pedisi Persatuan Dagang Hindia Timur (VOC) pimpinan Scipio ber tanggal Senin, 28 Juli 1687. Kemudian prasasti diteliti oleh sejumlah ahli. Mereka adalah Friedrich (1853), J Noorduyn (1859), KE Holle (18777), CM Pleyte (1911), RNg Poerbatjaraka (1921), dan Saleh Danasasmita (1981- 1984).

Prasasti Batu Tulis termasuk cagar budaya. Cagar budaya terdata paling banyak di Bogor Tengah, sejumlah 253 situs. Di lokasi lain, perinciannya yaitu 98 cagar budaya di Bogor Utara, 21 di Tanah Sareal, 49 di Bogor Timur, 31 di Bogor Barat, dan 35 di Bogor Selatan.

Cagar budaya tersebut terdiri atas prasasti, arca, bangunan ibadah dari masa silam, bangunan kolonial, makam kuno, hingga bangunan rumah tinggal. Sebagian di antaranya telah atau sedang diajukan untuk dialihfungsikan, namun belum ada jumlah pasti yang terdata.

Sejumlah cagar budaya telah dilengkapi papan penanda, termasuk perincian peringatan untuk merawat situs yang ada. Sebagian situs juga dijaga juru pelihara, yang sebagian berstatus PNS dan sebagian lagi berada di bawah naungan Balai Pengelolaan Kepurbakalaan Sejarah dan Nilai Tradisional Pemerintah Provinsi Jawa Barat.